Sabtu, 30 Maret 2013

African Gateau





Kue ini adalah salah satu kue favorit keluarga yang mamaku dulu sering bikin. Zaman SD. Waktu itu tiramisu, cheese cake dan black forest belum terlalu populer di sini. Yang populer seperti kue lapis surabaya, lapis legit dan kue ini. Cakenya tidak terlalu manis karena vlanya sendiri udah manis. Tapi berhubung resepnya udah hilang aku modifikasi sendiri sesuai seleraku. Aku pake resep browkusnya Ny. Liem yang sudah kumodifikasi. Aku hilangkan emulsifiernya. Hasilnya tetap mengembang dan lembut. Setelah itu aku buatkan vla sendiri. Atasnya dikasih siraman ganache. Pas sekali...yuuummm!! andai kakakku Hasyim ada di sini. Dia sukaaaaaaaaa sekali kue ini. Asliiii suka...!!

Syaratnya bikin kue ini adalah usahakan kue diisikan filling secepatnya begitu vla baru diangkat dari kompor. Kalau dibiarkan lama vla akan berkulit dan ketika dituang dia tidak akan menempel pada kue. Nanti ketika saatnya kue dipotong, lapisan vlanya akan terlepas. Nggak cantik lagi penyajiannya. Jadi tuang dulu separuh vla di atas kue pertama. Kalau khawatir pengerjaannya lama segera tutup sisa vla dengan cling wrap. Tumpuk dengan kue kedua lalu tuang lagi sebagian vlanya dan terakhir tumpuk dengan kue terakhir. Siram ganache.

Karena bikinnya agak sorean, sewaktu selesai aku buru buru mengambil gambarnya. Mengejar sisa sisa matahari yang akan teggelam.

KBB #33 : Bagels









Dapat surat cinta lageeeee. Alhamdulillah sampai saat ini aku belum pernah sekalipun melewatkan tantangan KBB. Aku merasa sangat rugi kalau nggak kerja tugas. Bukan apa apa. Tapi seringnya tugas yang diberikan memang belum pernah aku bikin sebelumnya. Jadi excited...harus bikin. Semangat dan motivasinya tinggi deh pokoknya. 

Tugas Klub Berani Baking kali ini adalah membuat Bagel. Walaupun kelihatannya simpel tapi sebenarnya pembuatannya memerlukan keterampilan dan ketelatenan. Waktu bikinnya sampai dua hari pake acara nginap di kulkas dulu adonannya.Untuk resep karena di sini nggak ada barley malt syrup jadinya aku ganti dengan madu. Tepungnya juga tepung protein tinggi semua.

Menurutku hal yang perlu diperhatikan adalah pembentukan dan fermentasi. Kalau untuk fermentasi harus memahami temperatur di daerah masing masing. Semakin panas semakin cepat naiknya. Dan ketika keluar dari kulkas adonan yang sudah mengembang agak susah ngambilnya. Agak mleyot mleyot. Lain kali kalau aku bikin lagi kayaknya nggak usah dimasukin kulkas. Mau lihat ada bedanya nggak.

Untuk proses pencelupan di air soda, aku langsung berhasil mengembang semua. Jadi pekerjaan selanjutnya lumayan cepat. Di susun di loyang lau dipanggang. Jadi deh...
Resep di bawah ini aku copy dari blog KBB ya. Panjaaaaaaang dan lebaaaaaarrr!!

Resep Dough
21g barley malt syrup, madu, atau rice syrup, atau 7g diastatic malt powder
3g ragi instant
10,5g garam
255g air hangat (sekitar 35C)
454g unbleached bread flour

Resep Rebusan Roti
181-272g air
28,5g barley malt syrup atau madu (optional)
14g baking soda
7g garam

Metode Membuat Dough
Aduk malt syrup, ragi, dan garam ke dalam air hangat. Masukkan tepung ke dalam mangkuk mixer dan tuang campuran malt syrup ke dalamnya. Jika menggunakan micer, gunakan pengaduk dough dan kocok menggunakan kecepatan rendah selama 3 menit. Jika pakai tangan, gunakan sendok kayu yang besar dan aduk hingga 3 menit, hingga tercampur rata. Adonannya musti terbentuk rada padat, membentuk bola kasar, dan semua tepung harus sudah tercampur rata dengan cairan, jika tidak maka tambahkan sedikit air. Biarkan adonan istirahat selama 5 menit.

Kocok lagi dengan kecepatan rendah selama 3 menit atau tuang ke atas meja kerja yang sudah ditaburi tepung lalu uleni dengan tangan selama 3 menit hingga adonan lembut dan sudah membentuk gluten. Adonannya akan elastis, jika dirasa dengan tangan akan berasa lembut. Jika adonan terlalu lembek maka perlu tambahkan sedikit tepung.

Letakkan adonan ke dalam mangkuk yang telah diolesi minyak tipis, tutup mangkuk dengan plastik dan biarkan adonan naik dalam suhu ruangan selama 1 jam.

Ketika anda siap untuk membentuk bagels, siapkan baking tray yang dilapisi parchment paper atau silicone mat, lembabkan dengan spray oil atau olesi dengan minyak, tipis-tipis saja. Bagi adonan 6-8 adonan kecil. (Umumnya berat bagels 113g sebelum dipanggang, tapi anda bisa bikin lebih kecil dari itu.) Bulat-bulatkan adonan (ngga usah terlalu padat) dengan cara menggilingnya di atas meja kerja dengan satu telapak tangan yang ditangkupkan. Jika anda bikin lebih dari 6 bagels, anda harus menyediakan 2 baking tray. Jangan gunakan tepung di atas meja kerja anda. Jika adonan tidak bisa dipulung membentuk bola, lap saja meja kerja anda dengan serbet lembab dan coba lagi.

Ada dua metode membentuk bola-bola adonan menjadi bagels. Metode pertama adalah melobangi bagian tengan bola adonan untuk menyerupai bentuk donat. Pegang adonan dengan kedua ibu jari di dalam lobang, putar adonan dengan tangan anda, sedikit demi sedikit memelarkan adonan hingga lobang membesar sekitar 2 inci (1 inci = 2,54cm). Metode kedua adalah dengan menggunakan kedua tangan membentuk adonan dari bola-bola menjadi berbentuk sosis dengan ukuran panjang sekitar 8 inci di atas meja kerja yang bersih dan kering. Tipiskan sedikit kedua ujung sosis dan lembabkan kedua ujungnya. Letakkan satu ujung adonan ke atas telapak tangan anda dan gulungkan mengelilingi tangan anda hingga membetuk lingkaran, mulai dari celah antara ibu jari dan jari telunjung dan mengelilingi telapak tangan. Ujung-ujungnya akan bertumpuk sekitar 2 inci. Satukan sambil dipencet ujung-ujung yang bertemu dan bertumpuk ini dan tekan ujung-ujung ini ke atas meja kerja, gulung-gulungkan ke depan dan belakang beberapa kalu supaya lengket. Lepaskan adonan dari tangan anda, sama ratakan ketebalannya jika perlu dan lubang di tengah dengan diameter berukuran sekitar 2 inci.

Letakkan bagel yang sudah dibentuk ini di atas baking tray yang sudah disiapkan, lembabkan dengan spray oil atau olesi sedikit minyak. Tutup seluruh baking tray dengan plastik dan simpan di kulkas semalaman atau hingga 2 hari. (Anda juga bisa proofing seluruh adonan di dalam mangku yang telah diolesi minyak selama semalam dan kemudia bentuk bagelsnya pada hari akan dipanggang, 60-90 menit sebelum direbus dan kemudian dipanggang, atau sesegeranya setelah lulus float test).

Baking Day!
Keluarkan bagels dai dalam kulas 60-90 menit sebelum anda memanggangnya, dan jika anda merencanakan untuk menaburkan bawang kering (dried onion) atau bawang putih di atasnya, rehydrate dulu bahan-bahannya. Segera check apakah bagels sudah siap untuk dipanggang menggunakan 'float test'. Yaitu: letakkan sebuah bagels ke dalam sebuah mangkuk kecil berisi air dingin. Jika bagels tenggelam, maka keringkan dan kembalikan ke atas baking tray, lalu tunggu hingga 15-20 menit, lalu test lagi. Jika bagels mengapung, maka sudah siap direbug. Jika bagels lulus test tapi anda belum siap baking, masukkan kembali ke kulkas sehingga tidak overproof. Sekitar 30 menit sebelum baking, panaskan oven dengan suhu 260C dan kumpulkan garnish anda (biji-bijian, bawang bombay, bawang putih, dan sebagainya).

Isi panci dengan 181-272g air, pastikan tinggi air sekurang-kurangnya memilki kedalaman 4 inci. Tutup, biarkan mendidih, lalu kecilkan api dan biarkan simmering (air tetap mendidih tapi tidak membentuk balon-balon besar). Masukkan malt syrup, baking soda, dan garam.

Masukkan bagel satu persatu ke dalam air rebusan hanya sampai panci bisa memuatnya, jangan over-crowded ya. Bagels akan segera mengapung dalam kurun waktu 15 detik. Setelah 1 menit, gunakan sendok berpori lalu balikkan bagel satu per satu. Teruskan merebus hingga 30-60 detik, lalu gunakan sendok berpori keluarkan dari air rebusan dan letakkan ke atas baking tray. (Penting kiranya bahwa parchment paper diolesi sedikit minyak, jika tidak nanti bagels akan lengket ke kertas). Taburi taburan sesuai selera anda sesegeranya (kecuali cinnamon sugar—lihat keterangan di bawah).

Masukkan bagels ke dalam oven, panggang dengan suhu yang dikecilkan hingga 232C, selama 8 menit, lalu putar loyang dan check bagian bawah bagels. Jika terlalu gelap, letakkan loyang lain di bawah loyang yang berisi bagels. Panggang lagi selama 8-12 menit, hingga bagels berwarna kecoklatan. Dinginkan ke atas rak sekitar 30 menit sebelum diiris atau disajikan.








Senin, 25 Maret 2013

Banana Muffin Loaf



Seperti biasa aku selalu sedia pisang di rumah. Biasanya sih karena memang aku beli sendiri. Tapi kali ini pisangnya sisa banyak keburu super matang karena si mbak tukang sayurnya pas aku belanja sayur kemarin dibonusin pisang susu sesisir. Nah, pisang susu ini cuma aku yang doyan. Beda dengan pisang emas, pisang raja dan pisang ambon...teksturnya agak seperti gabus. Kalau belum matang sekali sepet rasanya. Tapi kalau sudah matang sekali bisa lebih manis dibanding pisang lainnya. Karena aku maunya cepat diberdayakan...aku bikin muffin saja. Dan supaya lebih cepat lagi aku nggak tuang di loyang muffin tapi ke loyang loaf mini. Jadinya 2 setengah loyang.
Hahhhhh leganyaaaaa...

Resep bisa dilihat di sini. Aslinya resep Bu Sisca Suwitomo yang udah aku modifikasi. Tentu saja waktu panggangnya jadi bertambah karena ukurannya lebih besar. Yang penting permukaannya dah kecoklatan dan ketika ditusuk lidinya keluar dah kering.



Jangan Kates (Sayur Pepaya Muda)



Kalau di Sulawesi jarang olahan sayur pepaya muda ini. Pertama kali makan di rumah mertua di Malang. Langsung suka. Iya enaklah...wong tinggal makan hihihi. Rasanya dan tekstur mirip labu siam. Tapi sayur pepaya ini kalau masih baru dimasak masih ada sensasi krenyesnya ketika dikunyah. Tapi kalau udah diinapkan semalaman berubah jadi lembut. tapi justru itu yang enak. Semakin lama, semakin sering dipanasi semakin merasuk juga bumbunya. Tapi kalau dipikir pikir dari segi kesehatan ya udah hilang sih vitaminnya. Mungkin cuman dapat serat dan rasa yang enak. Hihi...makanan Indonesia banyak lho yang diolah dengan cara begini. Segala macam sayur godog, sayur nangka, lodeh dst dst. Semakin bermalam semakin mlekok rasanya...jelas yang paling sehat ya sayuran mentah atau hanya dipanaskan sebentar. Tapi ya udah gitu ceritanya...kalau sayur santan enakan yang udah bermalam ^^

Ikan Kuah Asam (Menado)




Pingin makan yang segar segar. Karena suami sukanya gorengan jadi seringnya ikan aku goreng saja. Sesekali dibalado ataupun kuah kuning. Nah kali ini aku bikin kuah asam Menado. Dinamakan kuah asam karena memang kuahnya berasa asam segar dari tambahan jeruk nipisnya. Kuahnya cenderung encer dan bening tapi kaya rasa karena banyak menggunakan rempah daun seperti sereh, daun jeruk, dan kemangi. Rasa asam didapatkan dari tomat dan jeruk nipis. Karena di halaman banyak belimbing aku tambahkan sedikit dalam masakan ini. Semoga tidak merubah originalitasnya. Oh iya tuk bumbu bumbu mayoritas aku ambil di halaman rumah. Sereh, daun bawang, daun jeruk purut, belimbing, jeruk nipis tumbuh di halaman. Biasanya juga orang menambahkan daun kunyit. Berhubung nggak ada yaaa gunakan yang ada aja dah.


Untuk ikannya, aku menggunakan ikan kakap. Baunya tidak amis dan dagingnya lembut. Hubby suka, anak anakpun doyan. Aku suka makannya sambil dipletesin cabe rawitnya...nikmaaaaattt!! sampe keringatan hahahaaaa

Oseng Genjer


Ini juga adalah salah satu sayur yang baru kali ini aku coba. Tanya sama penjual sayur katanya enaknya dioseng atau ditumis seperti kangkung.Siiiplah kalo gitu. Gampaaang...!

Bumbunya cabe merah, cabe rawit (ini yang bikin mantap wanginya) bawang merah, bawang putih dan tomat serta sedikit terasi. Sedikit garam dan gula dan jadilah oseng genjerku. Sewaktu baru matang tambahkan teri goreng kering. Manteeeep. Menurutku rasanya perpaduan antara kangkung dan sawi. Ada hint pahitnya. Teksturnya lembut  agak mirip sayur pakis. Nggak renyah seperti batang kangkung tapi tetap enaklah sebagai variasi sayur.

Bubur Jali



Terima kasih tuk support dan doanya teman teman. Alhamdulillah setelah mengistirahatkan tubuh I feel much better now. Ngga sabar tuk posting. List resep udah numpuk. Karena aku tetap masak,  baking and taking pictures... cuman istirahat blogging ^^. Malah jadi lebih berat posting semua dalam satu hari wkwkwkwkwkw...

Resep ini simple kayak bikin bubur kacang ijo aja jadi resepnya nggak usah dishare ya. Kemarin waktu ke Makassar ketemu jali di Hero. Ternyata kalau di luar negeri ini namanya barley walaupun barley ada macam macam jenisnya. Tapi kalau lihat bentuknya, kayaknya aku pernah nemu di hutan sini. Aslinya seperti tanaman yang sering dibikin manik manik tuk dijadikan tirai. Kulit luarnya keras. Seumur umur belum pernah icip gimana rasanya. Yang jelas perlakuannya seperti bikin bubur kacang ijo. Direndam dulu sekitar 1-2 jam. Habis itu dimasak bersama air dan daun pandan sampai empuk. Setelah empuk turunkan santan dan gula merah, sedikit garam. Disajikan bersama santan kental gurih. Kalau rasa menurutku jauh beda dengan kacang ijo. Malah lebih mirip bubur bassang. Yaaaa bassang masih lebih enak dikit karena dari jagung pulut. Wanginya beda. Tapi terbayar sudah penasaranku. Setidaknya sudah pernah mencoba sekali.

Rabu, 20 Maret 2013

Rehat Sejenak...






Kangeeeeen ngeblog...kangen juga sama teman teman pembaca setia, semoga semuanya dalam keadaan sehat walafiat ya.
Maaf kalau aku terlalu lama istirahatnya. Maaf juga kalau ada komen komen yang tak sempat dijawab. Kemarin aku sekeluarga ke Makassar selama 4 hari, tapi sepulang dari Makassar pun aku nggak ada semangat tuk posting. Sudah beberapa minggu ini aku sering sakit kepala. Tambah parah kalau di depan komputer. Mata rasanya perih dan bengkak. Jadi kalaupun buka internet hanya bisa sebentar saja. Mungkin selama ini aku terlalu bersemangat blogging. Saking seringnya sampe sampe aku juga sering terlalu lama di depan komputer. Saatnya tuk istirahat sejenak. Mengistirahatkan mata dan punggung. Dan mungkin nggak akan seperti dulu lagi. Ngeblog dibatasi sehingga mungkin postingannya juga berkurang. Harap maklum ya teman teman...

Senin, 11 Maret 2013

IDFB Challenge #9 : Papeda (Bubur Sagu)








Tema IDFB challenge bulan ini adalah bubur gurih nusantara. Kalau mengikut asal daerahku Sulawesi Selatan harusnya sih aku bikin barobbo'. Tapi karena sudah ada yang bikin akhirnya aku memilih tuk bikin papeda. Papeda adalah makanan khas masyarakat Papua, Maluku dan sekitarnya. Berupa bubur yang dibuat dari sagu basah dari pohon sagu. Teksturnya beda dengan tepung sagu kemasan karena belum melewati proses pengeringan pabrik. Baunya khas agak kecut. Kalau aku masak sagu ini hubby nggak berani dekat dekat dapur. Dia heran kok orang suka sama makanan yang baunya seperti itu. Olahan ikan kuah kuningnya sih suka tapi sagunya tidak lah yaaaawww...ya gak papalah, rugi sendiri deh wkwkwkwk.

Bagi orang yang belum pernah makan atau lebih tepatnya menyeruput papeda ini mungkin berasa aneh ya. Bentuk dan teksturnya yang menyerupai lem membuat leher agak geli ketika pertama kali lewat kerongkongan. Bingung cara makannya, dikunyah gak bisa, ditelan juga aneh. Hihi...tapi kalo dah sering malah ketagihan. Cara penyajian bubur sagu ini populer disandingkan dengan ikan kuah kuning. Kuahnya yang asam manis pedas pas berpadu dengan sagu yang cenderung tawar. Mirip mirip juga dengan kapurung dari Sulawesi. Cuman bedanya kapurung ada tambahan sayur dan sagunya dibentuk bulat bulat kecil. Makannya pun pakai sendok. Resep papeda di bawah ini menggunakan takaran kira kira ya. Kalau keenceran bisa ditambahkan larutan sagunya dan didihkan kembali. kalau kekentalan bisa ditambahkan air. Maklumlah belum profesional bikinnya. Resep aku modifikasi dari sini dan berbagai sumber.

Bahan papeda :
- sagu basah secukupnya

- air secukupnya

Cara membuat :
  1. Cairkan  tepung sagu dengan sedikit air, saring. Taruh dalam panci.
  2. Tambahkan garam dan gula. Aduk rata.
  3. Didihkan air secukupnya. Tuang ke dalam larutan sagu. Aduk cepat dengan sendok kayu sampai larutan sagu berubah menjadi bening yang menandakan sagu sudah matang. Kalau masih tetap berwarna putih bisa dijerang kembali di atas kompor sampai matang.

Bahan Ikan kuah kuning :
- 1/2 kg ikan tongkol/mubara
- 2 sdm minyak untuk menumis

- 2 batang serai, geprek
- 4 tangkai kemangi

- 10 buah cabe rawit, biarkan utuh
- 2 buah tomat merah, potong 4 bagian

- 1 buah jeruk nipis
- gula pasir, secukupnya

Bumbu halus :

- 5 buah bawang merah
- 2 siung bawang putih
- 3 buah kemiri
- 2 buah cabai merah keriting
- 2 cm jahe

- 2 cm kunyit
- garam secukupnya


Cara membuat :

  1. Bersihkan ikan, potong potong. Baluri dengan garam dan jeruk nipis. Sisihkan.
  2. Panaskan minyak dalam wajan. Tumis bumbu halus dan sereh hingga wangi.
  3. Tambahkan air sebanyak 700 ml, biarkan mendidih.
  4. Masukkan ikan. Tambahkan gula, tomat dan cabai rawit utuh, cicip apabila kurang garam. Masak beberapa menit dengan api besar. Setelah mendidih kecilkan api masak kembali hingga ikan matang dan bumbu meresap.
  5. Ketika akan dimatikan tambahkan daun kemangi dan perasan air jeruk nipis.
  6. Ikan kuah kuning siap dinikmati dengan papeda.




 



Jumat, 08 Maret 2013

Banana Butter Cake with Nutella Buttercream



Yang namanya segala jenis kue pisang sudah aku coba. Mulai banana bread, muffin pisang, cake pisang cokelat, banana roll...dst dst. Ternyata baru nyadar kalau belum pernah coba bersi buttercakenya. Nah resep ini aku lihat di salah satu blog favoritku Vivian Pang Kitchen. Katanya kalau pecinta pisang harus mencoba resep ini. Karena aku merasa...ya akhirnya aku ikutan bikin juga. Tertarik sama metode butter cake pisah telur. Sudah pernah coba teknik ini dan hasilnya memang lebih lembut tidak seperti butter cake umumnya yang padat dan agak berat. Resep aku tiru plek tapi aku skip penggunaan baking powder dan soda kuenya. Cuman pengen tau efeknya di kue ini. Apakah tetap akan mengembang atau tidak...karena sudah menggunakan teknik pisah telur. 

Aku nggak pake poppy seed karena nggak punya. Dan karena Nutellaku juga masih banyak aku tertarik membuat Nutella buttercream tuk disandingkan dengan banana butter cake ini. Ternyata rasanya pas sekali. Enak. Cuman rasa pisangnya kurang nendang karena tertutup rasa buttercreamnya yang rich.  Dan karena tidak menggunakan baking powder dan baking soda kuenya tidak terlalu mengembang. Agak padat, tapi tetap lembut karena mengandung pisang. Berikut resep Vivian yang udah kumodifikasi sesuai bahan yang ada di rumah.

Rabu, 06 Maret 2013

Pallu Basa Makassar





Banyak orang yang bilang makanan Makassar mirip mirip bentuknya dan rasanya. Yang dimaksud itu mungkin adalah coto, konro, sop sodara dan pallu basa. Sebenarnya kalau lidah kita sudah sering mencicipinya rasanya tidak ada yang sama. Memang sepintas penampakan kuahnya agak mirip gelap kehitaman tapi bumbunya sangat berbeda. Semua makanan di atas kecuali konro umumnya menggunakan jeroan. Kalau konro menggunakan tulang. Tapi itu sesuai selera masing masing. Kalau aku bikin, jeroan diskip cuman pake daging.

Bumbu pengentalnya juga berbeda. Kalau konro menggunakan kaloa/kluwek, kalau coto menggunakan kacang goreng yang dihaluskan, pallu basa menggunakan kelapa parut sangrai yang dihaluskan, sedangkan sop sodara kuahnya tidak terlalu kental karena walaupun menggunakan telur kocok di akhir proses pemasakannya, perbandingan dengan kuahnya jauh sekali. Nah jelas kan perbedaannya. Dilihat dari bumbunya saja sudah bisa ditebak semua aroma masakan ini berbeda. 


Kali ini aku mencoba membuat pallu basa. Biasanya pallu basa disajikan bersama nasi beda dengan makanan lain yang disajikan bersama ketupat dan burasa. Dan dalam keadaan panas panas baru dituang ke mangkok biasanya bagi yang suka ditambahkan kuning telur ayan kampung. Menghasilkan kuah yang kental tapi sama sekali tidak berbau amis karena kelapa sangrai yang digunakan mendominasi aroma masakan ini. Kalau kata mamaku dulu neneknya kalo bikin nggak pernah disantap bersama telur mentah. Tapi ke dalam bumbunya ditambahkan sedikit kaloa/kluwak. Sedikit saja hanya tuk pewarna dan bukan pengental. Tapi ya...suka suka aja ya sesuai selera. Berikut resepnya yaaa...


Triple Chocolate Mouse Cake





Pertama lihat mouse cake ini di blognya Bunda Ricke "Ordinary Kitchen".  Beliau modifikasi dari resep aslinya di PastryPal. Dua duanya menarik, kalau Bunda Ricke dibuat ukuran bulat besar sedangkan pastrypal dibuat ukuran individu. Aku tertarik model satuan yang imut ini. Tertantang tuk bikin model seperti itu. Selain aku juga gak punya ring besar. Adanya mika mika plastik kecil. Kebetulan juga aku pingin praktekkan dekorasi cokelat yang menggunakan bubble wrap sebagai cetakannya. Hmmmm... menarik bukan?

Cake dasarnya aku bagi dua dari resep aslinya karena kayaknya lebih banyak dibanding mousenya. Ternyata setengah resep aja sisa. Mousenya sesuai ukuran aslinya. Cokelat crunchnya aku ganti dengan hiasan white coklat dan punyaku nggak disajikan bersama saus cokelat karena menurutku begini aja udah enak. Glazenya juga aku cuman krim kental dan cokelat karena nggak punya bahan lainnya. Hasil jadinya 7 individu mouse cake yang cantik dan lembut. Kata anak anak "kue es krim". Berikut resepnya ya...hanya sedikit modifikasi kok. Untuk white mouse aku tambahkan 100 gr krim kental karena menurutku kemanisan. Malah lain kali kalo bikin lagi aku nggak mau kasih white coklat. Di skip aja soalnya ggak terlalu suka rasa white cokelat yang kuat dalam mouse.

Satu tips buat yang pingin mencoba, sebaiknya kalau bikin dalam ukuran individu seperti di atas ukurannya jangan terlalu besar. Biar enaknya bener bener kerasa di setiap sendoknya. Sesuatu yang lezat kalo berlebihan makannya alias porsinya jumbo, jadi hilang enaknya malah blenek makannya. Tul nggaaak ???? 



Jumat, 01 Maret 2013

Blueberry Streussel Bread, Chocolate Cream Cheese and Coffee Bun




Hari ini lagi pengen bereksperimen dengan beberapa jenis roti. Resep rotinya sendiri hanya satu macam yaitu  roti dengan metode water roux. Cuman sepertiganya aku beri cokelat pasta sehingga menjadi 3 variant. Strawberry Streussel Bread yaitu roti yang dibentuk kepang dan ditaburi streussel dan selai blueberry. Gambarnya di atas. Chocolate creamcheese bun yaitu roti cokelat yang diisi adonan creamcheese dan yang ketiga coffee bun. Isiannya creamcheese juga tapi toppingnya kopi. Fillingnya aku lihat di resepnya Veronica's Kitchen via WendyInkk. Thanks to both of you for sharing this great recipe.







Kenapa aku posting lagi coffee bunnya padahal dulu udah pernah?? karena aku sedang mencari resep topping kopi yang renyahnya bertahan lama seperti roti boy. Selama beberapa kali bikin, yang terakhir inilah yang paling mendekati teksturnya. Biasanya adonan toppingnya renyah ketika masih panas. Begitu dingin langsung melempem. Lapisannya pun tipis...kayaknya itu yang menyebabkan renyahnya gampang hilang kena udara. Resep kali ini hasil gabungan antara topping crunchy sus jepangnya Pak Sahak dan topping coffee bun. Aku perhatikan toppingnya Pak Sahak agak tebal, mungkin bisa diaplikasikan ke roti juga. Ternyata benar. Cuman hasil akhirnya belum bisa semulus roti boy. Masih kelihatan motif spiral pada toppingnya samar samar. Resepnya belum aku share karena menurutku belum sempurna. Entar kalau udah puas bener sama hasilnya in sha Allah aku share yaaa...

Related Posts with Thumbnails