Sabtu, 29 Juni 2013

Pennylane Brownies




Segala macam brownies sudah pernah kubikin, tapi justru brownies killer milik mbak Riana belum dicoba. Aku mau mengaku, sebenarnya aku pernah bikin sudah lama, tapi nggak puas sama hasilnya. Rasanya sih enak tapi nggak ada thin crust di permukaannya. Setelah aku telaah baik baik...mungkin pengurangan gula dalam adonan berpengaruh ya sama penampakannya dan hasil akhirnya. Tolong kalau ada yang pernah bikin dikurangi takaran gulanya dan hasilnya masih tetap muncul thin crustnya share tip tipnya ya...penasaran juga!

Nah kali ini bikin lagi dan masih dengan resep yang dikurangi takaran gulanya supaya tidak overly sweet hasilnya sama juga. Eeeeegh...nggak ada lapisan tipis di atasnya. Tapi daripada kecewa, aku tutupi aja atasnya dengan ganache...hehe

Sebenarnya brownies seperti resepnya Mbak Riana ini, dulu zaman aku SD di tempatku juga populer. Di daerah kami berdiri perusahaan nickel Canada jadi banyak sekali ekspaktriat. Jadi ibu ibu di sini banyak dapat sharingan resep mereka. Yang paling populer waktu itu lasagna dan brownies. Nah browniesnya ini mirip punya mbak Riana. Aku ngga tau resep pastinya tapi yang jelas pakai minyak juga dan secara penampakan dan tekstur mirip sekali sama resep mbak Riana ini. Aku ingat karena waktu itu mamaku sering beli minyak jagung or kedelai tuk bikin kue ini. Tapi resep teman mama itu pakai ganache di atasnya. Tambah cantik kan. Kalau masih hangat toppingnya kelihatan kinclong tapi begitu dingin mulai mengeras dan nggak kinclong lagi.

Roti Konde Cokelat Keju




Bosan dengan bentuk roti yang biasa kali ini aku bentuk konde aja. Kenapa kusebut konde? karena memang mirip kondenya ibu ibu yang berkebaya hehe. Cara bikinnya bisa lihat Home Baking. Di sana pake isian candied orange sedangkan aku isiannya mises dan atasnya ditabur keju. Cara bikinnya sama awalnya, tapi punyaku dililit menjadi simpul sedangkan aslinya digulung melingkar aja.

Resep seperti biasa pake andalan water roux, silahkan lihat di sini.

Selasa, 25 Juni 2013

Kue Timphan (Aceh)





Timphan...kue ini kedengaran masih asing di telingaku. Memang belum pernah lihat dan coba. Mirip mirip bahasa Thailand menurutku...hehe. Aslinya jelas dari Aceh. Biasanya disuguhkan pada saat acara acara besar seperti lebaran atau menyambut tamu. Timphan yang umum dikenal masyarakat adalah berbahan dasar ketan dengan campuran labu ataupun ketan dengan campuran pisang, sedangkan isinya terbuat dari sarikaya. Yaitu campuran telur, santan dan nangka. Dulu masyarakat Aceh besar biasanya hanya menggunakan tepung ketan untuk bahan kulitnya, namun seiring perkembangan waktu orang mulai menambahkan labu maupun pisang sesuai dengan selera mereka.

Awal ketertarikanku mencoba yaitu ketika orang tuaku kembali dari Bogor acara reunian. Beliau suka sekali dengan suguhan salah satu temannya yang orang Aceh, yaitu kue timphan ini. Kata mama rasanya enak, legit, manis dan wangi nangka. Sampai berangan-angan untuk segera membuatnya. Segera mama minta resepnya dan berharap aku mau mempraktekkannya. Cuma waktu itu mama dapat resepnya timphan yang berbahan dasar ketan dan pisang. Kali ini, aku justru bikin yang berbahan labu karena kebetulan ada labu nongrong di kulkas. Bingung mau dibikin apa, perasaan semua olahan labu sudah pernah dibuat.

Proses pembuatannya awalnya kelihatan ribet. Tapi kalau bahan bahannya sudah lengkap, daun pisang mudapun ada...tidak ada alasan lagi untuk mengatakan susah. Celakanya justru resep yang aku catat dari mama raib entah kemana. Bermodalkan ingatan saja akhirnya aku beranikan membuat. Ditambah beberapa referensi komposisi bahannya hasil obrak abrik paman google sudah ada di kepala. Berikut resepnya :

Sop Saudara (Pangkep)




Resep ini dari dulu sudah banyak yang request, namun baru sekarang bisa diposting.
Lumayan bingung juga karena resepnya beda beda. Aku sudah bolak balik buku resep, tanya sana sini, blogwalking, bahkan tanya langsung sama penjualnya. Akhirnya hari ini kupersembahkan resep sop sodara...ala Hesti ^^

Mungkin teman teman yang belum pernah mencicipi bertanya apa yang menarik dari sop sodara ini?? apa bedanya dengan sop sop yang lain? Kata sop sodara sendiri menurut beberapa sumber diambil dari SOP yang berarti singkatan Saya Orang Pangkep, Sodara!! jadilah sop sodara. Tapi sebenarnya aslinya pertama kali resep ini muncul di daerah Pangkep Sulawesi Selatan dan memang populer di sana yang kemudian mulai merambah daerah lain. Namun biasanya para penjual tersebut memang memiliki kekekerabatan sehingga disebutlah sop sodara. Awalnya pembuatnya terinspirasi dari kata coto paraikatte yang terkenal. Paraikatte dari bahasa Makassar yang berarti sesama kita, katanya dimaksudkan agar pemilik warung, pelayan dan penikmatnya merasa bersaudara. Sop sodara adalah penegasan identitas asal daerah (source: wisata kompasiana)

Kalau rasanya sendiri menurutku setelah beberapa kali mencoba beda beda tipis satu sama lain. Tentu saja ini berdasarkan preferensi masing masing pembuatnya. Istilahnya beda tangan beda rasa. Umumnya orang mengenal sop sodara berkuah bening dengan bumbu yang khas...ada wangi aroma pala dan kayu manisnya. Namun ada pula yang menggunakan santan encer untuk kuahnya serta menggunakan cabe merah agar ada semburat merah, bukan untuk membuat kuah berasa pedas. Dan ada pula yang menambahkan telur kocok dalam kuahnya namun dengan racikan khusus sehingga kuah tidak berserabut telur. Cuma kelihatan sedikit kuahnya tidaklah benar benar bening.

Nah karena aku sudah jatuh hati dengan sop sodara di sini jadi aku meniru resepnya, walaupun setelah aku buat hasilnya nggak sama persis, hihi. Beda tangan beda racikan yaaaa...kuahnya sih sudah mirip penampakannya tapi rasanya kayak ada yang kurang menurutku walaupun anak anak dan hubby puas sekali dan bilang super enak!!

Yang lucu...di rumah kan nggak ada yang makan jeroan, tapi demi resep ini aku beli sedikit daging paru. Akhirnya siapa yang makan?? aku dan Iyut. Kalau aku karena terpaksa daripada dibuang. Kalau Iyut memang katanya enak jadi bantuin aku makan...hehe



 



Senin, 24 Juni 2013

Bingka Kentang Pandan



Resep ini hasil blogwalking di blog tetangga jiran  Kak Yatie "Sinar Kehidupanku". Reviewnya semua memuaskan. Lembut dan manisnya pas. Yang bikin aku tertarik karena resepnya menggunakan pandan. Sekarang aku lagi suka berpandan pandan ria, hehe ^^

Hasilnya memang enak, lembut juga, nggak ada jejak rasa kentangnya karena tertutup rasa dan wangi pandan, tapi tentu saja kelembutannya adalah sumbangan dari penggunaan kentang di dalamnya. Jangan dilihat tampangnya ya teman teman, memang kurang cantik tapi yang penting rasanya. Ada sedikit kesalahan waktu memanggangnya. Aku nggak baca baik baik instruksinya untuk memanaskan loyang sebelum diisi adonan. Mungkin itu yang menyebabkan punyaku agak lengket dikit, keluarinnya harus dibantu kikis dengan pisau.

Kering Ubi Jalar



Aku belum pernah bikin olahan sambal goreng atau kering dari ubi jalar sebelumnya. Biasanya sih pake tempe, kentang, teri kacang. Tapi Iyut selalu merengek minta dibuatkan. Pasalnya, sewaktu cuti di Makassar kami sering membeli nasi kuning di penjual dekat rumah mamaku. Kalau di Makassar memang nasi kuning lazim dimakan sebagai sarapan bukan hanya kalau ada acara tertentu saja. Asli Iyutnya suka sekali. Sampai maunya tiap hari makan nasi kuning itu terus. Sampai sekarangpun dia selalu menyebut nyebut nasi kuning favoritnya itu. Ternyata yang dia suka ya itu...si kering ubinya. Enak, pas manis asinnya...ditambah kriuk kriuknya yang bertahan lama.

Kemarin aku akhirnya beli ubi buat persiapan bikin kering ubi ini. Supaya mudah dan efisien aku nyerutnya pake food processor. Gak sampai 5 menit dah selesai. Aslinya ubi ini sewaktu habis diserut kelihatan banyak sekali. Tapi setelah digoreng agak menciut.

Lapis Kojo (Palembang)






Aku kenal kue ini sewaktu tempo hari ikutan challenge IDFB Kue Berlapis. Waktu itu mom Elly setor kue ini. Glekh...langsung ngiler...dan niat mau bikin juga. Agak agak ragu siy tapi penasaran juga. Ragunya karena kolesterolnya tinggi secara yang digunakan telur bebek + telur ayam + kuning telur + susu kental + gula + margarin + santan kental peras tanpa air...wadoooohhhh!! gimana dong, heeeeeelp...

Setelah menanti saat yang tepat, jadilah hari ini buatnya. Cukup setengah resep aja. Dengan niat icip dikit aja sisanya bagiin ke teman aja...hihi. Aman kan??? bebas dari dosa kolesterol jahat...

Setelah cek cek di google aku malah tertarik dengan resepnya mbak Kim Kim. Nggak jauh beda sih dengan punya mom Elly. Cuma kayaknya lebih banyak bahannya dan ini asli resep mamanya. Langsung melongo lihat lapisannya yang tipis tipis *kagum* telaten banget ya mbak Kim ini.

Ternyata bikinnya agak susah juga. Masalahnya karena ovenku cuman punya suhu atas satu saja. Broil, nggak ada pengaturan suhunya. Dulu waktu bikin  legit putih telur nggak masalah tapi ketika membuat kojo ini yang notabene adonannya encer beda juga perlakuannya. Sewaktu memanggang adonan, awal awalnya bagian tengahnya menggelembung tinggi sekali. Jadi yang cepat cokelat bagian tengahnya (kena api atas) sementara bagian pinggirnya nggak berubah warna. Waaaaaa gawat, akhirnya aku dapat solusi untuk membuka sedikit pintu oven tuk menurunkan suhunya. Lumayan hasilnya...tapi tetep saja warna kecoklatan di permukaannya nggak merata. Dan hasilnya seperti di gambar...jauuuuuh banget dari punya mbak Kim. Tapi nggak apa apa...rasanya aduhaiiiiii enaaak bener. Lembut, manis tapi nggak overly sweet seperti legit putih telur kemarin. yang bikin asli enak adalah wangi pandan sujinya. Emang yang fresh nggak tergantikan dengan pasta merk apapun.

Sabtu, 22 Juni 2013

Chocolate Wassants (water roux method)





Pertama kali lihat di blognya Dodol & Mochi aku sudah bulatkan hati pokoknya harus bikin juga. Waktu itu aku lagi belajar thangzong methodnya Pei-Lin tapi malah ketemu ini juga. Kelihatannya lumayan rumit dan menantang tapi sebanding dengan hasilnya yang cantik dan rasanya yang enak. Kalau lihat bentuknya mirip dengan croissant ya? tapi croissant kan danish pastry sedangkan ini asli roti, pembuatannya juga mirip. Pake sistem giling lipat, bedanya croissant menggunakan pastry margarin/butter sedangkan ini menggunakan adonan cokelat tuk lapisannya.

Pepes Jamur



Bosan dengan olahan jamur yang itu itu saja?? mengapa tidak mencoba resep yang nggak kalah enak dan tentu saja sehat. Kali ini aku bikin pepes jamur. Bumbunya simpel aja. Tapi beda dengan ikan atau ayam, ke dalam adonan jamur ditambahkan santan telur untuk mengikat bumbu bumbunya. Jamur tiram sebelum diolah bentuknya besar dan lebar lebar. Tapi ketika sudah bercampur dengan bumbu maka jamurnya akan menjadi layu. Setelah dikukus pepes akan sedikit berair, untuk menghilangkan air dan membuat pepes lebih wangi, pepes dibakar dulu di atas bara/kompor sampai wangi. Dijamin enak teman teman. Hubby dan anak anak makan dengan lahapnya. Kata hanif ini pepes ayam ya bu?? hahaha...berikut resepnya ya,

Cake Ubi Ungu





Kali ini aku bikin cake ubi ungu. Masih ada ubi ungu kukusku di freezer. Pas 300 gram untuk satu resep kue ini. Resep aslinya dari cake labu tapi ini versi tanpa emulsifier dan baking powder. Tetap mengembang dan lembut. Walaupun tidak semengembang dan seringan cake yang menggunakan bahan tambahan tapi rasanya tetap enak, terutama ada aroma wangi ubinya. Warnanyapun cantik...Hanif suka sekali, jarang jarang dia suka cake beginian.

Pencuri...oh pencuri...


Teman teman aku mau minta maaf sebelumnya. Setelah postingan ini aku akan  menon-aktifkan RSS feed di blogku. Jadi nanti teman teman yang ngelink ke blogku nggak bisa terupdate lagi kecuali memang niat buka sendiri blognya. Ini berhubung aku sudah muak dengan pencurian content blogku oleh beberapa oknum. Dulu sudah pernah aku laporkan beberapa blog tersebut tapi setelah dihapus oleh google mereka bikin yang baru lagi dengan mengganti namanya. Hfffffft capek jadinya. Kerjaan melapor itu butuh tenaga dan pikiran karena nggak bisa dilaporkan sekaligus. Laporannya harus satu persatu tiap postingan. Padahal effort untuk ngisi blog ini luar biasa. Mulai dari cari resep, cari waktu dan praktek, ditata sedemikian rupa, difoto kadang sampai puluhan hanya untuk mendapatkan 1 buah foto yang layak pajang. Setelah itu ngedit satu persatu, menulis cerita dibalik pembuatan cake dan seterusnyaa. Jadi kalau postinganku 700an bayangkan saja effortnya teman teman. 

Tapi orang macam begini gak habis akal. Walaupun blog sudah disetting no copy paste, no highlighting tetap aja bisa nyuri karena ngelink RSS feedku. Mereka mengambil postinganku hampir seluruhnya malah ada yang betul betul satu blog plek diambil semua. Kebetulan kemarin aku dapat info dari Mbak Ricke Ordinary Kitchen yang bilang kalau content blogku dicuri. Makasih banyak ya mbak, sudah nolongin info ke aku. Setelah aku cek ternyata banyak pencuri lainnya. Beberapa nama blog tersebut bisa dilihat di sini :

- warung resep makanan
- dunia online
- blog dunia dalam berita
- aditya

Mungkin juga masih ada yang lain diluar sepengetahuanku. Tapi untuk saat ini baru 4 oknum ini yang aku tahu. Aku ngga tau apa yang ada di pikiran mereka. Beberapa diantara mereka cuek bebek walaupun aku tegur. Mungkin menurutnya ini bukan pencurian karena tidak langsung mengambil barang yang berbentuk nyata/kongkret. Tapi tulisan dan gambar adalah buah pikiranku dan menurutku itu adalah hak milikku, dan karena itu mengambil content blogku tanpa izin adalah juga pencurian. Sebagian lagi pasti sudah tau...tapi demi mendapatkan uang dengan cepat melalui iklan dan statistiknya mereka menghalalkan segala cara.

Sebagian orang mungkin menganggap aku pelit. Begitu aja kok heboh. Kan bisa berbagi ilmu, dapat pahala, dan lain lain.Terserahlah. Kalau aku pelit tentunya aku nggak akan share resep resepku selama ini...aku simpan saja sendiri. Iya kan?? tapi karena menurutku ilmu tidak ada gunanya kalau disimpan sendiri. Membaginya adalah lebih bermanfaat. Bukan berarti bisa disalah gunakan dengan mengambil semena mena loh ya...tanpa izin. Aku sama sekali nggak masalah kalau dicopy untuk koleksi pribadi atau untuk dipraktekkan. Begitu juga kalau dicopy dengan menyertakan linknya. No problemo...

Ya...begitulah curhatku teman teman. Semoga kejadian ini tidak menimpa teman teman blogger yang lain. Semoga juga para pencuri itu sadar dan tau bahwa tindakan mereka salah dan apa yang mereka ambil itu tidak halal. 

Rabu, 19 Juni 2013

Kue Palu (Makassar)




Namanya kue palu, sama sekali bukan karena berasal dari daerah Palu ataupun dibuat menggunakan palu, hehe ^^. Aku yakin masih banyak teman yang belum pernah mencicipi kue yang satu ini. Aku juga makannya dulu waktu masih kecil. Kalau nenek datang biasanya beliau membawakan kue ini dan satu lagi favoritku, kue jipang. Suka sekali semuanya. Dua duanya dari beras ketan sangrai. Untuk kue palu, aromanya wangi khas ketan sangrai, ditambah kelapa parut dan gula pasir/merah. Teksturnya sedikit legit, tapi kalau dimakan harus hati hati karena beremah. Yang unik ya tekstur ketan dan kelapanya itu menurutku. Kalau menggunakan gula merah usahakan serut sehalus mungkin. Kalau menggunakan gula pasir cari yang butirannya halus seperti kastor. Ini nanti yang menyumbang sensasi krenyes krenyes ketika dikunyah. Dibentuk dengan cara dipadatkan dalam cetakan kue mangkok menghasilkan kue yang kelihatan kompak tapi begitu dikunyah langsung lumer di mulut.

Walaupun berasal dari Sulawesi Selatan kue ini jarang dijumpai di kota kota besar. Biasanya di daerah atau di kampung kampung saja orang suka membuatnya. Bukan karena kue ini kurang enak loh...tapi justru karena proses pembuatannya lumayan ribet . Bahannya cukup simpel. Cuma beras ketan, kelapa, dula pasir dan sedikit garam.

Aku bangga termasuk salah satu yang berhasil membuatnya. Bagaimana tidak...jangan dikira kalau kita punya gadget dapur yang lumayan canggih seperti blender atau food processor bisa dengan mudahnya membuat kue ini. No...no..no... . Aslinya beras ketan yang sudah disangrai kecoklatan ditumbuk menggunakan alu atau digiling dengan gilingan khusus. Setelah itu diayak. Begitulah dilakukan berulang ulang sampai beras ketannya habis menjadi bubuk semua. Walaupun bubuk nggak berarti halus seperti tepung terigu ya karena saringan yang digunakan bukan saringan halus. Masih terasa bulir bulir ketika dikunyah. Setelah itu dicampur dengan kelapa parut yang sudah dikukus supaya bisa tahan agak lama. Gulanya yang lumayan banyak merupakan pengawet alami dan membuat kue ini bisa bertahan sampai beberapa hari.

Nah karena aku nggak punya alu/gilingan, jadilah aku pake blender. Tau apa yang terjadi?? 10 kalipun aku blender berasnya nggak mau halus bener, pasti ada beras yang masih kasarnya tertinggal. Banyak lagi. Jadinya kue yang berhasil tercetak cuman jadi separuh dari resepnya. Tapi yang penting sudah tahu proses pembuatannya. Jadi lebih menghargai kue kue tradisional kita. Rasa capeknya hilang seketika ketika anak anak antusias makannya dan suka sekali sama kuenya. Kata mereka, kok bikinnya dikit sekali padahal kue ini enak sekali. Maaf ya anak anak...ibumu kurang telaten. Sebenarnya masih ada sisa tepung beras ketan yang masih kasar di dalam blender. Nanti mau coba lagi siapa tau bisa halus kalau aku sabar nungguin...hehe *mengharap keajaiban*




Selasa, 18 Juni 2013

Opor Ayam




Aku sering bikin olahan ayam berkuah yang mirip opor tapi baru kali ini bikin opor beneran. Maksudnya?? iya, yang aku bikin lebih mirip kari sih. Sebenarnya opor ya kari juga tapi bumbunya lebih minimalis serta warnanya agak pucat karena tidak menggunakan cabe dan kunyit. Nah, kalau kebetulan pas makan di rumah teman dan disuguhkan opor ini, anak anak suka sekali dan seringkali minta dibikinkan. Nah hari ini aku sempatkan tuk mencoba resep ini. Segera anak anak makan dengan lahapnya, soalnya sama sekali nggak ada jejak pedesnya. Padahal karena gemes warnanya terlalu pucat tetap juga aku tambahkan cabe merah besar. Tapi cuma seiprit...sepotong aja agar ada semburat semburat merahnya. Halaaah....liat aja di gambar nggak kelihatan kalo ada cabenya kan??? Resep di atas ini menghasilkan opor yang agak kental. Kalau mau lebih light bisa menggunakan santan encer ya.

Untuk mendapatkan hasil opor yang beraroma wangi dan tidak terlalu berlemak, bumbu bumbu kering sebaiknya disangrai sebelum dihaluskan. Kulit ayampun sebaiknya dibuang apabila menggunakan ayam ras.

Lemet




Ini adalah salah satu jajanan tradisional favoritku. Ngga tau aslinya darimana yang jelas di sini disebut lemet juga. Kalau di daerah lain ada yang nyebut ketimus, utri dan lain lain. Walaupun bahan dan cara membuatnya simpel tapi rasanya istimewa menurutku. Teksturnya yang legit kenyal ciri khas kue berbahan dasar singkong. Apalagi disantap ketika masih hangat, agak licin licin gimana gitu. Kalau mamaku bikin selain dibungkus daun pisang biasanya beliau kukus dalam loyang beralas daun pisang. Nanti ketika akan disajikan baru dipotong potong. Kadang disajikan dengan taburan kelapa parut. Namun dimakan begitu saja sudah enak rasanya.

Kali ini aku membuat dengan resep mamaku. Berbeda dengan resep kebanyakan, kalau mama...gula merahnya dimasak dengan sedikit air hingga kental dan kemudian disaring. Setelah itu baru dicampurkan ke dalam adonan. Cara ini menghindari gumpalan gumpalan gula merah yang tidak merata dalam adonan. Juga untuk menghilangkan kotoran yang ada pada gula merah. Kadang kotoran berupa ampas kelapa (kalau gula kelapa), serat serat, ataupun semut dan serangga lain. Jadi hasilnya cantik, warnanya cokelat merata.

Senin, 17 Juni 2013

Sanggara Uwai (Makassar)




Walaupun berasal dari Makassar, jajanan yang satu ini belum pernah aku lihat dan dengar sebelumnya. Mungkin familiar di beberapa daerah tertentu ya. Sedangkan kue yang aku tau itu mirip mirip dengan ini...namanya songkolo bandang/bandang-bandang. Bedanya kalau songkolo bandang, balutan luarnya dari singkong parut sedangkan yang ini dari tepung beras. Kalau yang ini malah lebih mirip pisang rai dari Bali. Bnetuknya agak unik karena sebelum dibalur adonan pisang dibelah dua tidak putus. Jadi ketika disajikan dalam potongan bentuknya seperti heart.

Lagi lagi resep aslinya aku lihat di Majalah Sedap edisi 2006. Menurutku ini perpaduan pisang ijo dan songkolo bandang. Mungkin kalau kelapa parutnya diganti saus santan dan ditambah sirup jadilah pisang ijo...hehe

Telur Belanak (Rembang)



Kalau kemarin aku bikin telur gabus, hari ini bikin telur hewan yang lain lagi, namanya telur belanak. Berasal dari daerah Rembang dan tidak terlalu populer di daerah lain. Uniknya, jajan ini berupa bola bola singkong goreng mini yang diisi dengan pisang raja. Enak...unik...sayangnya bikin bestanya masih kurang sempurna. Tapi anak anak nggak peduli dengan tampangnya yang penting enak rasanya. Suka sekali. Resepnya aku lihat di Majalah Sedap tahun 2006.






Sabtu, 15 Juni 2013

Brownies Tape




Cari varian yang lain tuk brownies kali ini pilihan jatuh ke brownies tape. Kenapa tape?? ya karena yang lainnya sudah dicobain semua. Mulai brownies pisang, cappucino, cheese marble, kukus, ketan hitam dan masih banyak lagi. Aku suka semua jenis kue yang ada tapenya. Tapi ragu kalau brownies cocok dipadankan dengan tape. Makanya daripada penasaran langsung aja dicoba.

Sewaktu diicip pas masih panas, aroma tapenya terasa. Bukan di hidung karena baunya seperti brownie yang biasa aja. Di lidah pun tak terlalu terasa tapi begitu masuk di kerongkongan terasa aroma khas tapenya. Walaupun tetap dominan cokelatnya ya. Ada sedikit rasa pahit diujung lidah. Lucunya...setelah dingin malah nggak terasa. Malah menurutku, orang nggak bakalan tau kalau dalam adonan brownie ini ada tapenya. Karena udah terbukti. Hubby aja langsung makan tanpa komen. Aku tanya apa ada rasa yang lain, katanya biasa aja...ya rasa brownie. Hehehehe...tuh kan. Yang aku suka tape menyumbang kelembaban pada brownie ini. Beda dengan brownie biasa yang agak dense, yang satu ini lembut banget. Berasa seperti makan tape. Tak perlu dikunyah disesap saja dah lumer. Aku suka...walaupun masih lebih suka brownies cappucino sih ^^




Resep aku lihat di Tabloid Saji edisi 256. Aslinya pake baking powder tapi aku skip karena memang brownies yang asli nggak pake baking powder kan. Ternyata ngembang juga kok. Berikut bahannya...

Jumat, 14 Juni 2013

Jumputan Nangka (Sulawesi Tengah)




Belum pernah dengar nama dan juga belum pernah icip. Tapi kalau lihat komposisi bahannya mirip barongko Makassar. Bedanya ini ada tambahan nangka dan jagungnya. Bikin penasaran gimana rasanya. Nyambung nggak ketiga bahan ini disatukan *sambil membayangkan rasanya bakalan aneh*

Eh tapi setelah aku coba...enaaaaak sodara sodara...nggak aneh sama sekali bahkan gabungan ketiga bahan ini sangat harmonis disatukan. Betul...rasanya tidak ada yang menonjol tapi kalau dimakan kita bisa rasakan ada wangi nangka, jagung dan pisang di dalamnya. Teksturnya lembut, tidak padat sama sekali. Unik deh...! Karena nggak ada gula merah aku pake gula pasir. Pisangnya juga diganti pisang raja karena di rumah adanya cuman itu. Dan kayaknya punyaku agak lembek dikit karena kelebihan santan. Aku bikin separuh resep tapi santannya lupa dibagi dua. Di bawah ini resep asli dari Majalah Sedap 2006 ya...

Cilok (Jawa Barat)




Sejujurnya aku sama sekali belum pernah mencicipi yang namanya cilok ini. Wajar saja karena ini adalah jajanan tradisional dari daerah Jawa Barat. Sedangkan aku tinggal di pelosok Sulawesi Selatan. Walaupun di tempatku banyak juga orang Jawa Barat tapi kayaknya ini bukan termasuk jajanan yang sering disuguhkan kalau ada acara. Nah beberapa hari ini ramai teman teman pada posting cilok bikin aku penasaran. Cari-cari, ketemu resep Mbak Pepy Indonesia Eats. Dan kayaknya menarik karena ada tambahan ebinya. Artinya lebih kaya rasa dong dibanding cilok yang plain. Tapi di rumah adanya rebon kering. Memang di sini nggak pernah nemu yang namanya ebi. Aku pakai itu aja sebagai penggantinya. Aku yakin rasanya nggak jauh beda. Cuman kayaknya aku kebanyakan daun bawang prei dan seledrinya deh. Warnanya jadi nggak putih tapi bersemu hijau...





Setelah jadi aku icip...rasanya enak. Wangi bumbu dan sedikit aroma ebi. Tapi teksturnya chewy banget ya. Jadi susah kunyahnya menurutku (pengaruh pake behel niy). Mungkin akunya aja yang belum terbiasa. Tapi anak anak menikmati walaupun juga tetap komen kalau ciloknya liat banget, hehe. Kayaknya aku bikin pentolnya kebesaran jadi ngunyahnya juga lama baru bisa habis. Yang penting udah tau gimana rasanya. Jadi kalau ada yang ngomomgin cilok lagi aku dah kebayang.


Resep ciloknya silahkan lihat di Indonesia Eats. Bikinnya setengah resep aja karena first try. Saus kacangnya aku racik sendiri karena resepnya mbak Pepy Nggak mau kebuka. Yang penting dah ada gambaran bahan yang digunakan yaitu kacang, bawang putih, kemiri, cabe, gula merah, air panas dan cuka. Aku masak dengan api kecil sampai keluar minyaknya. Mlekok lah pokoknya. Uendaaang bambang gurindang !!

Kamis, 13 Juni 2013

Telur Gabus




Hari ini anak anak libur karena anak kelas 6 persiapan gladi resik tuk wisuda. Mereka bete di dalam rumah. Setelah hujan berhenti langsung keluar dan main di halaman. Tapi aku tau apa yang akan terjadi...mereka sengaja cari genangan air dan main sepeda di atasnya supaya airnya nyembur nyembur ke badan. Sambil teriak teriak kegirangan. Nggak masalah sebenarnya sih ya...namanya juga anak laki. Tapi Hanif itu punya masalah alergi. Kalau keciprat air kotor langsung spontan gatal gatal. Muncul bintik bintik berisi air di bagian kakinya terutama di telapak kakinya. Nah, itu yang aku hindari.
Supaya nggak bosan, aku ajak mereka masuk dan kita bikin satu resep kue yang lumayan seru. Telur gabus. Tapi karena kita bikinnya bertiga...jadi lumayanlah tanganku nggak terlalu keriting, hihi ^^

Minggu, 09 Juni 2013

Klappertaart (versi kering)




Kemarin aku beli kelapa muda. Langsung deh anak anak minta dibikinkan klappertaart. Memang sih sudah lumayan lama aku ngga buat dan rasanya kangen juga. Aku bikin dua versi. Versi custard ala wilton dan versi padat/kering. Nah yang aku posting kali ini versi padatnya karena memang aku belum pernah bikin. Setelah cari cari aku tertarik sama klappertaartnya Mbak Endang. Judulnya aja klappertaart original Menado. Apalagi yang punya resepnya Mbak Ellen Antheunis yang kalau nggak salah memang orang Menado. Ya segeralah aku pilih resep ini tuk dipraktekkan.

Untuk rasa...kedua duanya enak dengan keunggulan masing masing. Kalau versi custard tentu saja lembut membelai lidah dan rich karena menggunakan susu dan banyak telur. Anak anak lebih suka dimakan hangat sambil disendokin. Nah, versi potong ini juga enak. Ngga terlalu manis dan mild rasanya. Teksturnya padat tapi nggak keras. Bagusnya  versi ini bisa dipotong potong serta gampang dihidangkan. Cuma kurang seru rasanya kalau makan klappertaart tanpa aroma kayu manis. Jadi aku taburilah atasnya dengan campuran gula bubuk dan kayu manis. Nah kalau yang kedua aku dan hubby suka. Yang jelas dua duanya enak.

Senin, 03 Juni 2013

Cake Labu





Cake labu ini sudah pernah aku posting sebelumnya. Tapi karena hari ini aku bikin dengan tambahan topping jadi aku posting lagi. Aku skip emulsifiernya tp tetep pakai baking powder. Taburan aku tambahkan kenari dan kismis...benar benar melengkapi rasa manis dari labu. Supaya tidak tenggelam ke dasar loyang, taburi kenari dan kismis dengan sedikit terigu dan susu bubuk. Hmmm wangi pokoknya.Tekstur kue moist karena ada labunya. Cenderung perpaduan antara butter cake dan kue lumpur. Lho kok?? iya benar...sebenarnya ini termasuk cake, tapi karena di dalamnya mengandung labu yang agak banyak jadi hasilnya sedikit dense gitu deh, pokoknya harus dicoba supaya tau rasanya. Yang jelas selain pumpkin bread, ini adalah kue favoritku.

Untuk kue ini labunya aku panggang untuk mengurangi kandungan airnya. Jadi labu aku panggang dalam loyang yang ditutup alumunium foil sampai masak. Tandanya apabila ditusuk dengan tusuk sate, tembus sampai ke bawah dengan mudah. Panas panas langsung dihaluskan ya supaya nggak bergerindil.




Zebra Kukus Putih Telur





Masih dalam rangka menghabiskan stok putih telur, hari ini aku bikin zebra kukus putih telur. Pertama kali lihat di blognya Kak Rima Bisous A Toi langsung jatuh hati. Motifnya cantik sekali. Eh ternyata resepnya dari Majalah Sedap Pemula dan aku punya majalahnya. Cuma nggak pernah perhatikan saking banyaknya buku Sedapku, hehe ^^

Sabtu, 01 Juni 2013

Mainan Jadul...

 

Beberapa minggu belakangan ini adikku yang laki laki sering mampir di rumah buat ngajakin anak anak main. Kadang diajak berenang, jalan jalan, dan kadang juga dibuatkan mainan mainan jadul. Katanya supaya mereka bisa merasakan gimana asyiknya mainan jaman kita kecil dulu.

Main Layangan

Sebenarnya sih ini bukan mainan jadul. Jaman sekarang juga masih ada tapi anak anak sudah jarang memainkannya. Mungkin karena nggak ada tempat luas buat main apalagi buat yang tinggal di kota besar. Nah karena kami tinggal di desa...maka ruangan bermain untuk anak anak lumayan luas. Kemarin sore Iyut dan Hanif diajak omnya main layangan di dekat rumah. Cari lokasi yang nggak banyak tiang listriknya. Asyik juga walaupun layangannya kecil. 

Jaman dulu aku kecil, layangan dibuat sendiri. Ukurannya besar dengan ekor yang panjang serta dari kertas minyak warna warni. Pokoknya seru. Cari bambu sendiri, motongin bilah bambu, nyambung bambu dengan benang, sampai membentuk layangannya juga semuanya sendiri. Kreatifitasnya diasah. Begitupun sosialisasinya. Kami main rame rame sama teman atau tetangga. Supaya tambah seru benangnya diberi serpihan balon lampu yang diancurin sampai halus lalu dioles ke benang menggunakan putih telur atau bisa juga disebut benang galas. Nah kalau beradu dengan layangan lain, putuslah benang mereka...hahaha kejam juga ya ternyata. Kalau putuspun semua segera berlarian mengejar sampai kemanapun.



waduuuuh, nggak ada anginnya om...layangnya mutar mutar aja di atas kepalaku hihihi



Lihat mimiknya, beneran cape kalau ini mah...cape lari lari ngejar angin hihi



Ini lagi pasang benangnya...sama om Hendra dan tante Hera cantik...


 Main Lappo' Lappo'


Mainan yang satu ini nggak kalah serunya. Kedengaran aneh ya namanya. Tapi ini memang bahasa Makassar. Artinya meletus atau meledak. Kenapa dinamakan demikian? karena ketika disodok...peluru koran yang ada di dalam keluar sambil bersuara keras seperti letusan. Terbuat dari 2 potong batang bambu kecil. Yang satu bagian digunakan untuk menyodok. Diisi koran basah yang dibentuk bulat kecil panjang seperti peluru. Pelurunya 2 biji. Ketika akan dimasukkan dipipihkan dulu diujung lappo'nya lalu ditusuk dengan penyodoknya. Ketika disodok...peluru kedua mendorong peluru pertama keluar dan menciptakan bunyi letusan itu.


Mainnya seru kalau rame rame. Namanya perang lappo' lappo'. Jadi ada dua kelompok. Mereka saling menyerang dengan mainan ini. Kalaupun terkena tidak mengapa...karena walaupun suaranya dashyat kalau mengenai objeknya akan berubah jadi pipih dan lembek. Walaupun begitu tetap harus berhati hati.


Minggu lalu mereka dapat dari omnya. Dibuat sendiri sama om Hendra.  Segeralah mereka loncat loncat kegirangan. Secara belum pernah main dan lihat sebelumnya. Sebelum bermain diajar dulu dan dikasih tips sama om gimana cara main yang benar dan aman.







 

Kalau nggak main di luar mereka main di dalam rumah. Tapi emaknya harus siap siap peluru koran berhamburan dimana mana...








hadeeeeew...dinding kamar ibu penuh dengan peluru koran...



Balon Balon



Kalau ini sih jaman kecil juga sudah ada. Tapi barusan nemu lagi kemarin di pasar. Langsung deh beraksi. Nggak susah mainnya tapi butuh kesabaran. Beda dengan balon karet yang biasa, balon ini butuh ketelitian. Kalau meniup terburu buru bakalan banyak yang bocor. Jadi harus pelan pelan sambil mata memperhatikan kalau ada yang bocor langsung ditambal. Asyiiiik...





 Iyutnya pusing...balonnya kempes terus...


 
Related Posts with Thumbnails